MARTHIN LUTHER DAN MUSIK
Music adalah seni dan ilmu dalam menggabungkan bunyi atau nada vocal dan instrumental dalam berbagai melodi, ritme, warna nada, untuk membentuk suatu komposisi yang lengkap secara structural dan mengekspresikan emosi atau perasaan. Music dapat membuat manusia bergembira, bersedih, tersanjung, dan sebagainya. Musik adalah sarana yang sangat penting dalam ibadah gereja, sebab sebagian besar porsi ibadah gereja memiliki unsur musik, baik vokal maupun instrumental.
Kehadiran music dalam suatu ibadah adalah sebagai media mengiringi dan mengantar jemaat dalam memuji dan menyembah kepada Tuhan. Salah satu alasan mengapa music membantu dalam ibadah adalah karena music merupakan medium yang lebih ekspresif daripada sekedar ucapan biasa.[1] Music dalam ibadah mengandung nilai kekekalan yang memberikan inspirasi tentang segala keindahan dan kebaikan Allah, yang bersifat membangun serta memiliki perekat hubungan emosional dan nilai komunikasi yang efektif terhadap sesama.[2]
Begitu pentingnya musik di dalam gereja, sehingga Martin Luther, seorang tokoh gereja protestan era reformasi menyatakan bahwa gereja yang baik adalah gereja yang bernyanyi. Martin Luther adalah seorang pencinta music, penyanyi dan juga seorang komponis. Martin Luther mengatakan bahwa “Musik adalah suatu karunia yang indah dari Allah sendiri” dan “ saya perlu menempatkan musik hanya dibawah Teologi dan memberinya pujian yang sangat tinggi.” Ia memiliki pandangan bahwa musik mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pendidikan dan etika, sehingga membawa semua anggota jemaat terlibat langsung dalam musik ibadah.[3] Sudah cukup lama menurut pendapatnya, lagu-lagu rohani menjadi hak istimewa dari para pemimpin gereja. “Saya mengusahakan terjemahan kitab suci agar Tuhan dapat langsung berbicara kepada umat-Nya, dan saya mengusahakan nyanyian-nyanyian jemaat agar umat-Nya dapat langsung berbicara kepada Tuhan.[4] Martin Luther sangat menyadari manfaat dan pengaruh music dalam perkembangan iman gereja dan kekristenan. Dalam ibadah, Martin Luther mengizinkan pemakaian beragam alat music tidak menggangu penyampaian pesan Alkitab atau lagu kepada jemaat. Luther juga memakai music tradisional, baik dalam bentuk instrumen maupun dalam bentuk nyanyian untuk mempermudah jemaat memahami makna music itu sendiri.
Ada 5 pandangan Martin Luther tentang music yang saling berhubungan antara lain : 1). Music is a gift of God[5], artinya music adalah hadiah atau karunia dari Allah. Itu berarti bahwa musik memiliki dimensi makna, kekuatan dan efektifitas yang jauh melebihi setiap seni manusia atau ilmu pengetahuan. Musik bukanlah penemuan atau sebuah karya manusia tetapi karya Allah sendiri. Martin Luther sangat menjunjung tinggi nilai musik dalam kehidupannya sebagai sebuah hadiah yang indah dari Allah.
2). Music Creates Joyful Hearts,[6] artinya music membuat hati gembira. Kegembiraan ini disebabkan oleh musik yang lebih dari sekedar suara manusia, secara individu atau dikombinasikan dengan orang lain. Dalam hal ini menunjuk kepada pemakaian instrument music dalam ibadah. Menurutnya pengembangan alat music yang baru dan indah adalah keahlian manusia, tetapi music itu sendiri adalah hadiah dari Allah sebelum terjadinya penciptaan.
3). Musik Drives Away The Devil, artinya music dapat mengusir setan. Sebuah catatan Martin Luther menyatakan bahwa “Satan is a spirit of sadness ; therefore he cannot bear joy, and that is why he stay very much away from music.”[7] Beliau mengatakan bahwa setan adalah roh kesedihan, dan tidak tahan dengan sukacita, itu sebabnya dia tinggal sangat jauh dari music. Luther berulang kali mengatakan bahwa dia menempatkan music hanya dibawah teologi, seperti dituliskan dalam sebuah surat yang dituliskannya kepada seorang komposer yang bernama Ludwig Senfl yang mengatakan :
for we know that music , too, is odious and unbearable to the demons. indeed i plainly judge, and do not hesitate to affirm, that except for theology there is no art that could be put on the same level with music, since except for theology (music) alone produces what otherwise only theology can do , namely, a calm and joyful disposition.
Seperti teologi, music juga adalah media untuk mengusir setan seperti yang ditunjukkan kepada Saul raja Israel ( 1Samuel 16 : 23).
4). Music Creates Innocent Delight,[8] artinya music menciptakan kegembiraan yang murni. Pandangan keempat ini merupakan konsekuensi logis dari pandangan yang ketiga. Roh jahat tidak akan nyaman dimana pun Firman Allah dinyanyikan dan diberitakan dengan iman yang benar dan iblis hanyalah roh kegelapan yang tidak akan mendapatkan kegembiraan jika Firman Allah dinyanyikan dan dikabarkan. Hal ini memberikan pemahaman bahwa musik rohani (baik vocal maupun instrumental) jika dilakukan dengan iman yang benar akan menghadirkan kuasa Ilahi.
5). Music Reigns in Times of Peace, artinya musik memerintah dalam masa damai. Yang dimaksudkan damai oleh Martin Luther adalah karena menerima pengampunan dosa. Luther menggunakan musik sebagai media untuk menyampaikan seruan pengampunan kepada Tuhan, misalnya dalam nyanyian mazmur 79 : 8-9.
Martin Luther menambahkan bahwa pada saat suara vocal dan suara instrument terdengar secara bersamaan itu adalah sebuah kesempatan teologis. Dia menggambarkan kekuatan music adalah salah satu yang paling signifikan karena mampu menciptakan perdamaian dan juga memicu peperangan.
[1] James F.White, Pengantar Ibadah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 103.
[2] Simion Diparuma Harianja, Liturgi dan Musik Gerejawi (Medan: Mitra Dwi Lestari, 2011), 55.
[3] Dr. Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1 (Jakarta: Gunung Mulia, 2002) 100.
[4] William N. McElrath, Cerita-cerita Dari Lagu-lagu Rohani Kesayangan Kaum Kristen Indonesia Jilid 3 ( Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 1974)18.
[5] Robin A. Leaver, Luther’s Liturgical Music ( Cambridge : Published, 2007), 89.
[6] Ibid, 91.
[7] Ibid, 93.
[8] Robin A. Leaver, Luther’s Liturgical Music
Selamat Membaca...!!! God Bless.....
Komentar :